Literasi Digital dan Peran Penting Bawaslu

Ponorogo (ponorogo.bawaslu.go.id) Dunia digital yang merambah cepat ke dunia politik menjadi perhatian pengawas pemilu. Karena tidak hanya membawa sisi positifnya saja, tetapi juga dampak negatif yang perlu diantisipasi. Seperti misinformasi, disinformasi dan malinformasi yang berpotensi merusak kualitas demokrasi.

Tenaga Ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Bidang Komunikasi dan Media Massa, Devie Rahmawati menyebut Indonesia berharap banyak pada Bawaslu untuk memastikan demokrasi berjalan aman. Hal ini sampaikan di Jember, Minggu (25/04/2021).

“Dalam literasi digital yang cepat ini Indonesia berharap banyak kepada Bawaslu untuk memastikan demokrasi kita berjalan aman,” terangnya dengan berapi-api.

Alumni dari Univesitas Indonesia ini mengungkapkan bahwa negara-negara di dunia juga terdampak dari pesatnya dunia digital.

“Bahkan Amerika sendiri juga tidak mampu mengendalikan produk budayanya sendiri. Kita tahu pasca pemilihan presiden kemarin terjadi kekerasan yang diakibatkan dari propaganda di dunia digital. Kandidatnya memprovokasi yang diikuti oleh jamaahnya,” terangnya.

Devie menganalisa cara kerja dari misinformasi di dunia digital.

“Misinformasi ini sebenarnya hanya sekitar 1 persen tetapi karena banyak yang ngeshare dan like maka jadi banyak,” terangnya

Ia membagi tips untuk mengenali informasi yang keliru.

“Pasukan cybernya tidak semuanya manusia. Robot juga. Biasanya akunnya tidak punya nama, tiap hari menyebar lebih dari 50 status, atau hanya retwet dan share saja. Bisa dikenali antara nama dan foto. Misal nama akunnya Devi, tetapi fotonya Bambang,” terangnya.

Devi memungkasi dengan mengapresiasi Bawaslu Jatim dalam meningkatkan literasi digital.

“Saya bangga sekali dengan Bawaslu yang mau meningkatkan skill literasi digital pengawas pemilu,” pungkasnya.

Sumber : Laman Bawaslu Jatim.

62 Views